Senin, 29 Februari 2016

Nihon Daisuki! Juu (10)

Nihon Daisuki!
Juu

          Hari Senin di sekolah, aku dan teman-teman melihat Eri sensei memasuki kelas dengan seorang pria bertubuh tinggi. Kami semua bertanya-tanya. Siapa, ya pria itu?
          “Ohayou Gozaimasu,” salam Eri sensei kepada kami.
          “Ohayou Gozaimasu,” salam kami.
          “Minna-san, apakah kalian tahu siapa laki-laki ini?” tanya Eri sensei.
          “Wakarimasen (Tidak tahu),” jawab kami semua.
          “Ja,” kata Eri sensei, Minna-san, laki-laki ini adalah Fujisaki Honekawa. Beliau dari salah satu stasiun TV di Jepang, dan beliau ingin membuat artikel tentang 10 sekolah terbaik di Jepang, dan Sekolah Itsumura adalah salah satu sekolah yang terbaik menurutnya.”
          Kami semua kaget. Kami semua tidak menyangka, sekolah kami akan masuk TV! Oh My God!
          Eri sensei lalu mengatakan, “karena ada 25 murid di kelas ini, saya akan memilih 5 murid terbaik untuk di wawancara di auditorium di lantai pertama, dan 5 murid yang saya pilih adalah....”
          Suasana menjadi tegang. Siapa 5 murid yang dipilih Eri sensei untuk di wawancara?
          “...Mitsuo, Tadashi, Nagisa, Ken, dan Gianna.”
          Mendengar ini, aku langsung menunjuk tangan. “Sensei, kenapa sensei memilihku sebagai murid terbaik?” tanyaku.
          “Gianna-san,” jawab Eri sensei, “alasan saya memilih kamu sebagai murid terbaik karena kamu selalu menginspirasi kami semua dengan sebagian budaya negaramu, dan kamu adalah murid dari Indonesia pertama yang belajar di sekolah ini.”
          Aku pun senang sekali mendengar itu. Kata-kata Eri sensei seperti apa yang dikatakan Reiko kepadaku kemarin ketika piknik di taman Sakura:
          kamu sudah mempunyai teman-teman di sini, dan kami beruntung mempunyai kamu, karena walaupun kamu dari luar negeri, kamu sangat berarti, dan kamu menginspirasi kami dengan membagi bagian dari budayamu.”
          Doumo Arigatou Gozaimasu (Terima kasih banyak), sensei,” kataku senang sekali, lalu waktunya untuk belajar.
******
          Setelah semua pelajaran berakhir, waktu wawancara pun dimulai di auditorium sekolah. Banyak murid terbaik dari kelas lainnya yang sedang wawancara, begitu pula murid-murid terbaik dari SD dan SMP Itsumura.
          Sebelum diwawancara, aku bertanya kepada Mitsuo dan Nagisa. “Kenapa kalian terpilih menjadi murid terbaik?”
          Mitsuo menjawab, “aku terpilih menjadi murid terbaik karena aku kreatif dan suka menggambar Manga. Aku ingin menjadi komikus saat aku besar nanti.”
          Sementara Nagisa menjawab, “aku terpilih menjadi murid terbaik karena aku suka menari, dan aku ingin membuka kursus tari sendiri dan menjadi koreografer.”
          Tak lama kemudian, aku mulai di wawancara oleh salah satu wartawan. Banyak pertanyaan yang diajukan si wartawan untuk Gianna. Mulai dari nama, umur, kota asal, sejak kapan belajar Bahasa Jepang, suka duka belajar di sekolah Itsumura, dan lain-lain. Wawancara berlangsung sampai jam 2 siang.
          Di apartemen, aku bercerita kepada Mama tentang kejadian tadi di sekolah.
          “Gianna terpilih sebagai murid terbaik,” kataku, “Mitsuo dan Nagisa juga. Kami bertiga di wawancara, ma.”
          Mama tersenyum. “Mama bangga sekali sama kamu, nak! Ibu tidak sabar melihat hasil wawancara kamu kalau artikelnya sudah ada.”
          Malam itu saat aku membantu Mama memasak shabu-shabu untuk makan malam, aku mendapat BBM dari Reiko. Aku harus menyalakan channel TV yang mewawancarai Sekolah Itsumura. Aku lalu mencuci tangan lalu menyalakan TV. Kemudian aku mencari channel TV yang dimaksud Reiko.
          Melihat apa yang ditayangkan di channel TV itu, aku terkejut bukan main. Mama yang mendengarku teriak langsung menghampiriku. Aku lalu menunjuk TV. Sekolah Itsumura sudah di tayangkan bersama aku dan murid-murid lainnya yang di wawancara. Aku senang sekali.
          Keesokan harinya ketika istirahat, aku dan teman-teman melihat berita di bulletin sekolah tentang Sekolah Itsumura masuk TV. Aku tidak akan melupakan pengalaman itu.
******
          “Wah, aku harap sekolah Roni dan Rani bakal di wawancara juga,” kata Roni, “terus kalau Pak Eddy memilih Roni, Roni bakal di wawancara.”
          “Hey, jangan lupa Rani, dong! Rani juga mau di wawancara!” kata Rani.
          “Iya, tapi kan kamu harus punya bakat bagus. Roni aja pinter Bahasa Inggris. Kalau Rani, cuma mau jadi psikolog,” ejek Roni.
          “Iih, Kak Roni nyebelin, deh!” Rani pun kesal. Semuanya pun tertawa. Lalu aku melanjutkan cerita.
******

Kamis, 25 Februari 2016

Nihon Daisuki! Kyuu (9)

Nihon Daisuki!
Kyuu

          Keesokan harinya setelah festival sekolah berakhir, aku dan Mama pergi ke taman sakura untuk piknik, karena hari ini adalah hari Minggu, dan Sekolah Itsumura libur di hari Minggu. Jadi, waktunya untuk melakukan sesuatu menyenangkan!
          Saat piknik di taman sakura, aku sangat menikmati piknik ini, karena suasana di taman Sakura sangat indah. Aku melihat putik-putik bunga Sakura berjatuhan, lalu aku menangkap beberapa putik untuk diletakkan di jurnalku.
          Namun, ketika aku sedang menikmati suasana saat piknik, tiba-tiba....
          “Gianna-san!” Seseorang mengagetkanku. Aku lalu menengok ke belakang. Ternyata Reiko!
          “Reiko-san!” seruku. Kami berdua pun berpelukan, lalu kami duduk dan mengobrol bersama setelah aku meminta izin kepada Mama.
          “Kamu suka Sakura, ya?” tanya Reiko.
          “Iya,” jawabku, “aku suka membayangkan diriku di Jepang lalu menikmati banyak hal menarik, terutama menikmati suasana di taman sakura karena dia suka melihat gambar-gambar Pohon Sakura dan orang-orang yang piknik dibawahnya.”
          “Aku juga mengalami hal yang sama,” kata Reiko, “piknik di pohon sakura sangat menyenangkan, apalagi sama teman dan keluarga.”
          “Iya,” kataku, “sekarang aku senang banget bertemu denganmu, lalu kita mengobrol bersama ketika piknik.”
          Reiko tersenyum. Lalu aku melanjutkan, “tapi, pikniknya akan lebih seru kalau seluruh keluargaku di sini. Tapi mereka di Indonesia dan aku cuma tinggal bersama mamaku di sini. Aku merindukan papa, adik-adik, kakek, nenek, om, tante, dan sepupu-sepupuku.” Lalu, mataku berkaca-kaca.
          Reiko mengelus pundakku. “Yang sabar ya, Gianna. Aku mengerti perasaanmu. Tapi kan kamu sudah mempunyai teman-teman di sini, dan kami beruntung mempunyai kamu, karena walaupun kamu dari luar negeri, kamu sangat berarti, dan kamu menginspirasi kami dengan membagi bagian dari budayamu.”
          Aku tersenyum haru mendengar kata-kata Reiko, lalu aku memeluk Reiko. “Terima kasih, Reiko-san,” kataku.
“Sama-sama, Gianna-san,” kata Reiko.
          Hari pun mulai sore. Aku lalu berpamitan dengan Reiko lalu kembali ke apartemen bersama Mama naik taksi.
          Malamnya setelah Shalat Magrib, aku dan Mama mengobrol kembali dengan keluarga di laptop Mama karena kangen.
******
          “Kamu kangen banget ya, sama kita?” tanya Mas Edwin.
          “Ya, iyalah,” kataku, “aku kangen sama obrolan kita, waktu kita main banyak permainan, dan aku juga kangen sama tawa kita.”
          “Well, sekarang karena Kak Gianna sudah pulang, kita bisa ngobrol sama ketawa lagi, deh!” kata Roni. Kami semua pun tertawa. Lalu aku melanjutkan cerita.

******