Sabtu, 15 Juni 2013

Lomba Menyanyi Antar Sekolah (Cerita III) PART 2




Lomba Menyanyi Antar Sekolah
(Cerita III)
Part 2
Hari ini, adalah hari yang aku dan keempat sahabatku tunggu. Lomba menyanyi! YEAAY! Aku tidak sabar sekali.
Kebetulan, lombanya di gedung kesenian yang namanya SINGING AND DANCING TEATER. Tempatnya dekat dari sekolahku, MADAME SMITH’S MUSIC SHCOOL. Setelah aku bersama teman sampai ke teater, Mrs. Keira dan Mr. Dennis, pembawa acara naik ke panggung.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.” salam mereka berdua.
“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarokatuh.” Salam murid- murid.
“Alhamdullilah lirrabbil alamin, hari ini kita bisa berkumpul dalam lomba menyanyi ini. Kebetulan, temanya adalah Broadway. Ada yang suka broadway, tidak?” tanya Mrs. Keira.
“IYA!!!” jawab murid- murid. Sebagian ada yang menjawab, “tidak.”
“Kalau semuanya sudah tahu atau ada yang sebagian tidak tahu, bagaimana kalau kita lihat murid- murid berbakat dari sekolah- sekolah di sini? Mereka akan menyanyikan lagu- lagu broadway yang mereka suka. Jadi, boleh kita mulai lombanya?” jelas Mr. Dennis.
“YA!” seru murid- murid.
“Oke, sekarang kita mulai lombanya!” kata Mr. Dennis diikuti Mrs. Keira.
“YEEEEY!!” seru semua murid girang.
“Kita mulai dari peserta pertama. Menyanyikan lagu ITS A HARD KNOCK LIFE dari ANNIE, sambutlah THE BROADWAY GIRLS dari Music Planet School!!!” seru Mrs. Keira dan Mr. Dennis lagi.
Lomba pun dimulai. The Broadway Girls pun maju dengan lagu broadway favorit mereka, It’s a hard knock life dari Annie. Setelah mereka tampil, Adella Putri Dzalifa dari Internasional Music School maju dan menyanyikan lagu Tomorrow yang juga dari Annie. Kemudian, peserta ketiga pun melanjutkan lomba. Tentu saja yang tampil itu Edith. Dia menyanyikan lagu Beauty and the beast dari Beauty and the beast.
Setelah 5 peserta tampil, giliran Eric yang menyanyi. Lagu Stars yang dia nyanyikan mengalun di seluruh ruangan.
STARS
There, out in the darkness
A fugitive running
Fallen from God
Fallen from grace
God be my witness
I never shall yield
Till we come face to face
Till we come face to face

He knows his way in the dark
Mine is the way of the Lord
Those who follow the path of the righteous
Shall have their reward
And if they fall
As Lucifer fell
The flame
The sword!

Stars
In your multitudes
Scarce to be counted
Filling the darkness
With order and light
You are the sentinels
Silent and sure
Keeping watch in the night
Keeping watch in the night

You know your place in the sky
You hold your course and your aim
And each in your season
Returns and returns
And is always the same
And if you fall as Lucifer fell
You fall in flames!

And so it must be
For so it is written
On the doorway to paradise
That those who falter and those who fall
Must pay the price!

Lord let me find him
That I may see him
Safe behind bars
I will never rest
Till then, this I swear...
This I swear by the stars!
Setelah Eric menyanyi, tiba giliranku. Semuanya menuduk ketika aku mulai menyanyi, karena, lagu I dreamed the dream itu lagu sedih dan dapat membuat nangis.
I DREAMED A DREAM

There was a time when men were kind
When their voices were soft
And their words inviting
There was a time when love was blind
And the world was a song
And the song was exciting
There was a time
Then it all went wrong 

I dreamed a dream in times gone by
When hope was high
And life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving
Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung
No wine untasted
But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they tear your hope apart
And they turn your dream to shame


He slept a summer by my side
He filled my days with endless wonder
He took my childhood in his stride
But he was gone when autumn came


And still I dream he'll come to me
That we'll live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather
I had a dream my life would be
So much different from this hell I'm living
So different now from what it seemed
Now life has killed
The dream I dreamed
Ketika aku menyanyi, sebagian penonton yang mendengarnya menangis dan saling berpelukan. Sebagian temanku juga ada yang menangis. Aku memeluk mereka erat. Setelah aku turun dari panggung, Edith menatapku dengan sinis.
“Lagu bodoh yang kau nyanyikan itu sungguh tidak menyentuhku oke?” ejeknya, “lagu yang aku nyanyikan itu sungguh bagus untukku, aku yakin aku pasti menang!”
“Huh, lihat saja nanti, lagu yang aku nyanyikan bagus, kok. Tapi tidak bagus didengarkan oleh anak sombong sepertimu!” kataku sambil menjulurkan lidah. Edith membalasnya.
Tak lama kemudian, lomba pun selesai dan waktunya pengumuman lomba.
  “Ada 6 juara yang akan kami umumkan hari ini. Juara harapan III adalah.....”
Para peserta pun bersiap- siap.
“Adella Putri Dzalifa dari Internasional Music School!”
Semuanya bertepuk tangan. Adella maju ke panggung saking senangnya.
“Juara harapan II, Nabila Aulia Zahra dari Madame Smith’s Music School!”
Bella kaget. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya dan maju ke panggung.
“Juara harapan I, The Broadway Stars dari Sekolah Dunia Musik!”
The Broadway Stars maju ke panggung. Mereka bersorak penuh kesenangan.
“Juara III, Freddie Putra Permana dari Sekolah Dunia Musik!”
Freddie melompat girang, dia maju ke panggung dengan keadaan masih shock.
“Juara II, Muhammad Erictya Prasetyo dari Madame Smith’s Music School!”
Eric pun kaget, hampir saja dia jatuh dari kursinya. Dia pun maju ke panggung saking senangnya.
 “Juara I,”
Music segera dibunyikan. Edith tersenyum sinis kepadaku.
“Jennifer Nurul Aditya dari Madame Smith’s Music School!”
Aku menutup mulut dengan kedua tanganku. Aku kaget sekali dan maju ke panggung saking senangnya. Semuanya bersorak kegirangan. Kak Viana melambai- lambai kepadaku. Bunda dan Ayah berpelukan.
“Jane, kamu keren banget, deh!” kata Madison.
“Makasih, kamu juga keren, kok.” Kataku sambil mengancungkan jempol. Madison membalasnya. Lalu, Edith menghampiriku.
“Jane, maafkan aku, ya. Aku memang gadis yang bodoh.” Keluh Edith.
“Permintaan maaf diterima.” kataku. “sekarang, kita teman, kan?” kataku.
“Teman.” Balas Edith.
Lalu, kami berdua berpelukan. Sungguh, hari yang tidak akan terlupakan bagiku.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar